Senin, 17 Agustus 2020

Peradaban dan Kemenangan suatu bangsa tergantung pada wanitanya

Assalamu'alaikum

Selamat Hari Kemerdekaan untuk negeriku Indonesia yang ke 75 tahun🇮🇩.

Tiba-tiba saja aku baca catatan kecil yang pernah aku ketikan dan ternyata menimbulkan semangat (lagi) untuk memulai hari senin ini. Semoga yang membaca ketikan ini pun bisa ikut bersemangat untuk terus membangun diri dan lingkungan.
Pesan ini teruntuk kaum Hawa.

Rahim yang taat akan melahirkan pemimpin yang taat.
Pemimpin islam itu tidak pernah jauh dari rahim yang taat. Lihat saja Siti Aminah, Siti Maryam, Siti Hajar. Mereka adalah beberapa wanita mulia islam, yang patut menjadi role model wanita hingga kini. 

Karena tau kah kalian?
Standar hidup seharusnya seorang muslim dan muslimah itu sangat tinggi. Jika kita berkaca pada Muhammad Al-Fatih di usia 21 tahun sudah berhasil menaklukan konstantinopel, Imam Al-ghazali, Ibnu Sina.
Mereka membuktikan setelah waktu akil baligh itu berarti sudah selesai dengan masalah pergulatan diri, sudah siap menghasilkan karya yang sangat berarti bagi orang banyak. Mengapa demikian? Penempaan mereka sudah dimulai sejak dini, sudah mengetahui tujuan hidupnya di dunia yang sesungguhnya untuk apa.

Jadi, sudah sejauh manakah kita sudah ditempa?. Berbagai kemudahan sudah melimpah saat ini, mulai dari teori-teori bahkan hingga hal teknisnya. Berbagai cara belajar mulai dari audio, visual, kinestetik dan bahkan kombinasinya kini sudah tersedia di genggaman kita (gawai). Kita dimanjakan dengan melimpahnya informasi, sehingga untuk mengefisienkan waktu yang terbatas ini (1,5 jam di dunia) diperlukan keahlian memilih, manakah ilmu yang benar-benar harus kita gali. Sebagai muslimah tentu banyak sekali yang harus kita pelajari untuk membentuk generasi peradaban. Tiba-tiba teringat, aku pernah meminjam buku saat berkunjung ke rumah saudara, buku yang judulnya sering diucapkan oleh banyak pembicara seminar yang aku hadiri. Buku itu berjudul "The Perfect Muslimah" buah karya Ahmad Rifa`i Rif`an. Sejujurnya belum tamat ku baca, bukunya tertinggal di kosan, tepat sekali :') di masa segala kegiatan dilakukan dari rumah. Namun di suatu webinar, judul buku ini pun kembali disarankan oleh pembicara. The Perfect Muslimah itu diulas kembali, hal inilah yang paling terpatri.

"Indah akhlaknya, brilian otaknya, teduh parasnya, mantap ilmu agamanya, luas pergaulannya, dahsyat prestasinya, hebat kontribusinya". Mungkin saat mendengar kata Perfect atau sempurna itu memang relatif, namun setidaknya terus berusaha menuju "The Perfect Muslimah". Penjelasannya, bahwa dua poin terakhir adalah dampak dari lima poin di atasnya. Indah akhlaknya bernilai angka 1, apabila teduh parasnya bertambah angka 0, apabila brilian otaknya maka bertambah angka 0 lagi di belakangnya dan seterusnya. Maka dari itu, mulailah dengan memperindah akhlak, agar ke depannya semakin berdampak baik bagi makhluknya disertai dengan nilai baik di sisi-Nya.

Wassalamu'alaikum
Tetap Semangat #darirumah 🇮🇩

Salam Poemy

2 April 2020

Hustle Culture

Assalamu'alaikum 

Jadi tadi tuh ceritanya lagi nyari informasi tentang teaser film baru dari buku Rentang Kisahnya Kak Gita di Youtube, dan akhirnya nonton videonya Kak Gita Savitri Devi yang udah ada sejak seminggu lalu di playlist "watch later" nya aku. Setelah ditonton ya seperti biasa, kak Gita dengan pemikiran kristis dan analitiknya berhasil membuat aku sadar, yang aku lakukan itu gak sepenuhnya salah. Tentang Hustle Culture, jujur aku baru banget denger.

Hustle culture tuh semacam budaya overworking yang semakin marak terjadi di tahun-tahun belakangan ini, khususnya pada generasi milenial. Sebenernya aku udah gak masuk generasi milenial atau Y sih. Berdasarkan tahun kelahiran, aku masuk generasi Z, so jangan salah kaprah, seperti sama saja, padahal beda. 
Okay lanjut..

Hustle culture juga berhasil menjangkit generasi Z, seperti aku dan banyak generasi Z lainnya. Apalagi selama PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau kerennya Study From Home, tugas jadi lebih banyak dari pada biasanya, deadline pengumpulan lebih cepat dari biasanya, dan deadline pengumpulan antar tugas  saling berdekatan bahkan bersamaan, sehari bisa ada 3-6 deadline tugas. Tugasnya juga kebanyakan tentang analisis, jadi sangat diharuskan untuk paham dan fokus, kalo multitasking, hasil analisisnya hanya general aja. Tapi, karena menumpuknya tugas-tugas ini dengan waktu pengerjaan yang sebentar dan deadline yang bersamaan mengharuskan kita untuk bisa multitasking. Kalo aku udah bingung banget nih multitasking.

Kadang tuh suka iri kalo temen-temen buat story saat mereka lagi ngerjain tugas sampai larut malem, bahkan sampe udah jam 00.00 dan udah dini hari kayak jam 1 atau jam 2 pagi. 
"Kok mereka rajin banget sih, kapan istirahatnya, aku aja masih kurang tidur, kok aku males banget sih"
dan Ternyata... Emang yang over itu gak baik.

Awalnya, aku kira memang akunya aja yang males, tapi aku mulai sadar, aku memilih untuk istirahat itu udah bener, karena tubuh kita butuh istirahat setelah dari pagi-sore bahkan bisa sampai malam masih beraktivitas. Al-qur'an juga udah ngasih tau dalam surat An-Naba ayat 10, malam itu dijadikan pakaian, yang artinya malam adalah waktu kita untuk istirahat, jadi jangan jahat sama tubuh sendiri dengan memaksanya untuk terus bekerja, padahal udah berkurang banyak energinya. Tubuh butuh charge diri, supaya kerjanya nanti lebih bagus lagi. Banyak penelitian yang dilakukan beberapa perusahaan besar yang udah dicantumin sama kak Gitasav dalam videonya. Dari penelitian itu membuktikan kalo suatu perusahaan yang hanya memperkerjakan staf nya selama 4 hari, berdampak positif pada kinerjanya meningkat 10-20% selama kerja dari sebelumnya, staf nya juga lebih tenang dan bahagia karena punya banyak waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan istirahat tentunya.

Jadi, menjadi seorang yang giat dan rajin itu baik, tapi kita juga harus tahu waktu, harus bisa menempatkan sesuatu sesuai pada waktunya. Waktu ibadah untuk ibadah, waktu aktivitas ya untuk aktivitas, waktu tidur dan istirahat ya boleh tidur. Sebenernya yang pas itu waktu sehari semalem yang 24 jam bisa kita bagi jadi 3 (untuk ibadah, aktivitas dan istirahat), tapi emang waktu beraktivitas tuh kadang maruk, maunya lebih aja, jadi ya ada waktu yang berkurang dari istirahat, bahkan ibadah :(.

Wassalamu'alaikum
Semangat terus teman-temanku 🤗
Salam Poemy

Tulisan ini dibuat :
13 Mei 2020
10.49