Assalamu'alaikum
Selamat Hari Kemerdekaan untuk negeriku Indonesia yang ke 75 tahun🇮🇩.
Tiba-tiba saja aku baca catatan kecil yang pernah aku ketikan dan ternyata menimbulkan semangat (lagi) untuk memulai hari senin ini. Semoga yang membaca ketikan ini pun bisa ikut bersemangat untuk terus membangun diri dan lingkungan.
Pesan ini teruntuk kaum Hawa.
Rahim yang taat akan melahirkan pemimpin yang taat.
Pemimpin islam itu tidak pernah jauh dari rahim yang taat. Lihat saja Siti Aminah, Siti Maryam, Siti Hajar. Mereka adalah beberapa wanita mulia islam, yang patut menjadi role model wanita hingga kini.
Karena tau kah kalian?
Standar hidup seharusnya seorang muslim dan muslimah itu sangat tinggi. Jika kita berkaca pada Muhammad Al-Fatih di usia 21 tahun sudah berhasil menaklukan konstantinopel, Imam Al-ghazali, Ibnu Sina.
Mereka membuktikan setelah waktu akil baligh itu berarti sudah selesai dengan masalah pergulatan diri, sudah siap menghasilkan karya yang sangat berarti bagi orang banyak. Mengapa demikian? Penempaan mereka sudah dimulai sejak dini, sudah mengetahui tujuan hidupnya di dunia yang sesungguhnya untuk apa.
Jadi, sudah sejauh manakah kita sudah ditempa?. Berbagai kemudahan sudah melimpah saat ini, mulai dari teori-teori bahkan hingga hal teknisnya. Berbagai cara belajar mulai dari audio, visual, kinestetik dan bahkan kombinasinya kini sudah tersedia di genggaman kita (gawai). Kita dimanjakan dengan melimpahnya informasi, sehingga untuk mengefisienkan waktu yang terbatas ini (1,5 jam di dunia) diperlukan keahlian memilih, manakah ilmu yang benar-benar harus kita gali. Sebagai muslimah tentu banyak sekali yang harus kita pelajari untuk membentuk generasi peradaban. Tiba-tiba teringat, aku pernah meminjam buku saat berkunjung ke rumah saudara, buku yang judulnya sering diucapkan oleh banyak pembicara seminar yang aku hadiri. Buku itu berjudul "The Perfect Muslimah" buah karya Ahmad Rifa`i Rif`an. Sejujurnya belum tamat ku baca, bukunya tertinggal di kosan, tepat sekali :') di masa segala kegiatan dilakukan dari rumah. Namun di suatu webinar, judul buku ini pun kembali disarankan oleh pembicara. The Perfect Muslimah itu diulas kembali, hal inilah yang paling terpatri.
"Indah akhlaknya, brilian otaknya, teduh parasnya, mantap ilmu agamanya, luas pergaulannya, dahsyat prestasinya, hebat kontribusinya". Mungkin saat mendengar kata Perfect atau sempurna itu memang relatif, namun setidaknya terus berusaha menuju "The Perfect Muslimah". Penjelasannya, bahwa dua poin terakhir adalah dampak dari lima poin di atasnya. Indah akhlaknya bernilai angka 1, apabila teduh parasnya bertambah angka 0, apabila brilian otaknya maka bertambah angka 0 lagi di belakangnya dan seterusnya. Maka dari itu, mulailah dengan memperindah akhlak, agar ke depannya semakin berdampak baik bagi makhluknya disertai dengan nilai baik di sisi-Nya.
Wassalamu'alaikum
Tetap Semangat #darirumah 🇮🇩
Salam Poemy
2 April 2020